Tani

Rabu, 10 April 2013

Bila Anak Sulit Diam Dan Fokus

Orang tua kerap tertekan ketika menerima surat dari sekolah menyatakan jika anak mereka ”tak mau mendengarkan guru” atau ” sulit dikendailkan dan menyebabkan masalah”. Satu alasan paling masuk akal untuk jenis perilaku ini adalah Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Meski anak dengan ADHS ingin menjadi siswa yang baik, perilaku impulsif mereka dan ketakmampuan menaruh perhatian pada tempatnya akan mempengaruhi proses belajar di kelas. Guru, orang tua, dan bahkan teman memahami, jika si anak memiliki ”selip perilaku” atau “berbeda”, hanya saja mereka tak mampu mengartikulasikan dengan tepat apa yang salah.

Gejala hiperaktif dalam ADHD bisa jadi termasuk berlarian, atau memanjat berlebihan pada anak kecil, atau perilaku menunjukkan sulit lelah dan nervous untuk anak lebih tua. Tentu itu sangat kontras bila dibanding aktivitas setinggi apapun anak normal. Hiperaktifitas pada intinya adalah perilaku minim terorganisir, tak menentu, dan tanpa tujuan tertentu. ADHD cenderung menimpa pada anak lelaki ketimbang perempuan dengan rasio sepuluh banding satu.

Seorang anak dengan ADHD biasanya menunjukkan tanda-tanda seperti susah mengorganisasi dan memperlihatkan sikap ia tidak mendengar instruksi, fokus mudah terpecah, ceroboh, kerap melakukan kesalahan impulsif, sering dipanggil di dalam kelas, susah menunggu gilirannya bila dalam situasi kelompok, gagal mengikuti permintaan orang tua, tak mampu memainkan permainan selama yang dimainkan anak seusianya.

Tanpa tindakan dan terapi yang tepat, anak mungkin akan gagal dalam sekolah, dan teman-teman pun akan kesulitan karena si anak kurang dalam hal kerjasama dan melakukan aktivitas sosial. Begitupun soal jati diri, si anak lebih banyak memiliki kegagalan daripada sukses yang mengundang kritik dari keluarga dan guru yang tidak mengenali masalah kesehatannya.

Jika itu terjadi pada anak anda, jangan segan untuk membawanya ke ahli atau psikiatri tumbuh kembang anak. Itu bukan berarti anak anda memiliki kelainan mental. Jangan merasa minder dan tertekan, sebab bila itu dirasakan sang anak, ia akan merasa lebih tersudut dan lebih tertekan lagi.

Memang, kadang anak dengan sindrom ADHD diikuti dengan tingkat kecerdasan yang rendah, tapi itu tak berlaku untuk semua penderita ADHD. Seorang anak dengan ADHD pun masih memiliki peluang tak kalahbesar dengan anak normal. Michael Phelps, perenang internasional Amerika Serikat adalah salah satu contoh penderita ADHD. Peraih 14 medali emas Olimpiade Beijing ini mampu mengatasi kekurangannya menjadi kelebihan. Begitu pula acara TV , Extreem Makeover, Home Edition, digagas oleh, Ty Pennington, seorang penderita ADHD yang mampu mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

Riset terhadap ADHD telah banyak didokumentasikan, dan pengobatan akan sangat membantu. Dengan bertemu dengan ahli tumbuh kembang orang tua dapat belajar bagaimana bisa mengatasi permasalahan dengan anak mereka. Tentu terapi menyeluruh dan evaluasi terus-menerus tak boleh lepas dari dukungan lingkungan sekitar, juga para guru. Lebih dari itu orang tua harus percaya dan meyakini bila sang anak mampu mengatasi kekurangannya.
(Sumber: Republika)

Selasa, 09 April 2013

Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perilaku Anak

Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
2. Pola asuh Otoriter
3. Pola asuh Permisif
4. Pola asuh Penelantar.

Pola asuh Demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

Pola asuh otoriter sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

Pola asuh Permisif atau pemanja biasanya meberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.

Pola asuh tipe yang terakhir adalah tipe Penelantar. Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.
Pangaruh Pola Asuh Orangtua

Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Dari karakteristik-karakteristik tersebut di atas, kita dapat mawas diri, kita masuk dalam kategori pola asuh yang mana. Apabila kita memahami pola asuh yang mana yang cenderung kita terapkan, sadar atau tidak sadar, maka kita dapat segera merubahnya.

Kita juga bisa kita melihat, bahwa harga diri  yang rendah terutama adalah disebabkan karena pola asuh orang tua yang penelantar. Banyak sekali para orangtua terutama para wanita karier yang suda mempunyai anak yang lebih cinta kepada pekerjaannya daripada kepada anaknya sendiri. Dia lebih banyak meluangkan waktu untuk mencari uang dan uang. Dia lupa kalau di rumah ada anak-anaknya yang membutuhkan kasih dan sayang dia. Pergi kerja disaat anaknya masih tertidur pulas, lalu pulang ketika anaknya sudah tertidur pulas lagi. Sehingga, anak-anak  lebih mengenal pembantunya daripada sosok ibunya sendiri.

Senin, 08 April 2013

Kegiatan Untuk Perkembangan Jiwa Anak

Macam-macam kegiatan  dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Kegiatan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.


2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Kegiatan Pasif

1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya

Sabtu, 06 April 2013

Tahap Perkembangan Psikologi Anak


Menurut Erik Erikson (1963), ada 4 tahap perkembangan psikosial anak, antara lain:

1. TRUST vs MISTRUST (dari sejak lahir-1 tahun)
Sikap dasar psikososial yang dipelajari oleh bayi, bahwa mereka dapat mempercayai lingkungannya. Timbulnya trust (percaya) dibantu oleh adanya pengalaman yang terus-menerus, berkesinambungan, adanya pengalaman yang ada kesamaannya dengan ‘trust’ dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi oleh orang tuanya. Apabila anak terpenuhi kebutuhan dasarnya dan apabila orang tuanya memberikan kasih sayang dengan tulus, anak akan berpendapat bahwa dunianya (lingkungannya) dapat dipercaya atau diandalkan. Sebaliknya apabila pengasuhan yang diberikan orang tua kepada anaknya tidak memberikan/memenuhi kebutuhan dasar yang diperlukan, tidak konsisten atau sifatnya negatif, anak akan cemas dan mencurigai lingkungannya


2. AUTONOMY vs SHAME and DOUBT (antara 2-3 tahun)
Segera setelah anak belajar ‘trust’ atau ‘mistrust’ terhadap orang tuanya, anak akan mencapai suatu derajat kemandirian tertentu. Apabila ‘toddler’ (1,6-3 tahun) mendapat kesempatan dan memperoleh dorongan untuk melakukan yang diinginkan anak dan sesuai dengan tempo dan caranya sendiri, tetapi dengan supervisi orang tua dan guru yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Tetapi apabila orang tua dan guru tidak sabar dan terlalu banyak melarang anak yang berusia 2-3 tahun, maka akan menimbulkan sikap ragu-ragu terhadap lingkungannya. Sebaiknya orang tua menghindari sikap membuat malu anak apabila anak melakukan tingkah laku yang tidak disetujui orang tua. Karena rasa malu biasanya akan menimbulkan perasaan ragu terhadap kemampuan diri sendiri


3. INISIATIVE vs GUILT (antara 4-5 tahun)
Kemampuan untuk melakukan partisipasi dalam berbagai kegiatan fisik dan mampu mengambil inisiatif untuk suatu tindakan yang akan dilakukan. Tetapi tidak semua keinginan anak akan disetujui orang tua dan gurunya. Rasa percaya dan kebebasan yang baru saja diterimanya, tetapi kemudian timbul keinginan menarik rencananya/kemauannya, maka timbul perasaan bersalah.
Apabila anak usia 4-5 tahun diberi kebebasan untuk menjelajahi dan bereksperimen dalam lingkungannya, dan apabila orang tua dan guru memberikan waktu untuk menjawab pertanyaan anak, maka anak cenderung akan lebih banyak mempunyai inisiatif dalam menghadapi masalah yang ada di sekitarnya. Sebaliknya apabila anak selalu dihalangi keinginannya, dan dianggap pertanyaan atau apa saja yang dilakukan tidak ada artinya, maka anak akan selalu merasa bersalah.


4. INDUSTRY vs INFERIORITY (6-11 tahun)
Dimensi polaritasnya adalah: memperoleh perasaan gairah dan di pihak lain mengatasi perasaan rendah diri. Dalam hubungan sosial yang lebih luas, anak menyadari kebutuhan untuk mendapat tempat dalam kelompok seumurnya. Anak harus berjuang untuk mencapai hal tersebut. Bila dalam kenyataannya ia masih dianggap sebagai anak yang lebih kecil baik di mata orang tua maupun gurunya, maka akan berkembang perasaan rendah diri. Anak yang berkembang sebagai anak yang rendah diri, tidak akan pernah menyukai belajar atau melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual. Yang lebih parah, anak tidak akan percaya bahwa ia akan mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Bisnis Online
sumber : http://childrengarden.wordpress.com

Jumat, 05 April 2013

Manfaat Jadwal Harian Untuk Anak

Jangan biarkan waktu anak terbuang percuma. Manfaatkanlah secara maksimal agar apa yang diperolehnya sehari-hari bisa menjadi maksimal. Salah satunya dengan membuat jadwal harian. Jadwal yang teratur membuat anak memperoleh beragam kegiatan secara merata, sehingga pengalamannya lebih komplet. 

Di sisi lain, dengan ketiadaan jadwal harian yang baik, anak akan mendapat konsekuensi langsung yang bisa merugikan dirinya sendiri. Contoh, bila anak keasyikan bermain kemudian lupa makan, dia akan kelaparan sehingga mudah terganggu kesehatannya. Kalau kurang tidur, maka anak akan sering rewel, mudah marah, dan lainnya. 

Meskipun dampaknya terlihat sederhana, jika sering terjadi dapat menimbulkan kerugian yang cukup luas. Anak yang sering rewel misal, dia tak bisa mendapatkan manfaat interaksi sosial secara maksimal karena dalam bermain dia akan sering ngambek. Bila terlambat makan kemudian dia jajan sembarang, lebih mudah terserang penyakit. 

Tak demikian halnya bila kita menerapkan jadwal harian secara baik, anak justru akan memperoleh banyak manfaat. Dia jadi lebih disiplin dan bertanggung jawab. Anak pun dapat mengenal konsep waktu dan konsep urutan. 


Beberapa manfaat menerapkan jadwal harian pada anak diantaranya: 

1. Belajar konsep waktu
Pemahaman konsep waktu didapatnya saat melakukan berbagai kegiatan di pagi, siang, sore, dan malam. Pagi, setelah bangun tidur misalnya, anak akan memahami kalau di saat itu dia harus mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah. Selanjutnya di siang hari dia harus makan siang dan tidur siang. Begitu juga sore dan malam hari, anak akan melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di waktu-waktu tersebut, dari bermain di taman hingga tidur malam. 

Supaya pemahaman anak akan konsep waktu lebih mendalam, cobalah terangkan waktu saat anak melakukan aktivitas, "Adek, sudah pagi, bangun yuk! Setelah itu kita mandi." Saat siang kita bisa bilang, "Nah, siang ini kamu waktunya tidur siang." Dengan penjelasan seperti ini, anak jadi lebih memahami konsep waktu. 

2. Belajar konsep urutan 
 Setelah terbiasa melakukan kegiatannya, anak mulai memahami urut-urutan aktivitas yang harus dia lakukan, "Sehabis mandi aku akan sarapan, kemudian berangkat ke sekolah." Dengan memahami urut-urutan ini, aktivitas anak akan berjalan lebih teratur. Berbeda dengan anak yang tak memiliki jadwal harian, dia akan secara serabutan melakukan aktivitasnya. Mungkin hari ini dia akan tidur siang dahulu baru bermain atau bermain dahulu hingga sore baru tidur. Tentu hal ini tidak membuat anak belajar tertib sehingga banyak aktivitas yang seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal malah terbuang percuma. 

3. Disiplin
Setelah memahami jadwal yang harus dilakukannya, anak akan dituntut untuk disiplin mematuhinya, "Oke, sekarang memang waktunya tidur siang jadi aku harus mematuhi Mama." Memang, awalnya agak sulit menerapkan kedisiplinan ini namun lambat laun anak akan terbiasa. Nah, setelah kedisiplinan itu melekat pada anak, selanjutnya akan mudah bagi anak melakukan aktivitas yang sudah kita jadwalkan. Kelak di saat dewasa, dia lebih mudah mengatur jadwal kesehariannya karena sudah terbiasa sejak kecil. Dengan disiplin tinggi biasanya kesuksesan hidup akan lebih mudah diraih. 

4. Bertanggung jawab
Disiplin erat kaitannya dengan tanggung jawab. Setelah anak mampu berdisiplin, otomatis rasa tanggung jawab pada dirinya pun akan muncul. Anak bertanggung jawab terhadap apa yang harus dilakukannya di saat pagi, siang, sore, dan malam. "Sekarang waktunya makan siang, aku harus makan," misal. Sikap tanggung jawab yang sudah muncul sejak kecil akan sangat bermanfaat kelak saat dewasa. Dia akan lebih mampu untuk menerima tugas dan menuntaskannya dengan baik.

Kamis, 04 April 2013

Tips Mengenalkan Jadwal Harian Pada Anak

Beberapa hal harus kita perhatikan saat mengenalkan jadwal harian kepada anak, mengingat banyak anak usia prasekolah yang masih memiliki sikap egosentris tinggi. Mereka ingin melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, semaunya, tidak mau diatur, dan sebagainya. Nah, berikut ini 4 hal penting yang harus jadi perhatian orangtua! 

1. Berikan Penjelasan
Anak tak akan paham bila kita tak menjelaskan apa yang ingin kita terapkan kepadanya. Untuk itu, berikan penjelasan secara sederhana mengenai jadwal harian, "Adek lihat, ini adalah jadwal harian kamu!" sambil menunjuk papan jadwal yang bergambar aneka tokoh kartun kesayangannya. "Pagi hari kamu mandi, sarapan terus ke sekolah deh. Nah, siangnya sepulang sekolah kamu makan siang dan tidur siang..... " Dengan penjelasan seperti itu anak akan lebih memahami kalau ada kegiatan-kegiatan yang sudah terjadwal. Berbeda bila anak tak diberikan penjelasan sama sekali, dia akan lebih sulit untuk diarahkan karena memang dia tak tahu hal apa saja yang harus dilakukannya seharian. 

2. Libatkan Anak
Sangat baik bila kita melibatkan anak saat menyusun jadwal hariannya. Selain anak merasa lebih dihargai, pelaksanaan jadwal harian pun dapat diterapkan lebih mudah. Pasalnya, anak merasa ikut dilibatkan sehingga dia merasa lebih bertanggung jawab untuk mematuhinya. Lagi pula, jika anak mangkir kita bisa mengingatkan bahwa ia juga yang menyusun jadwal itu. "Kamu kan sudah ikut membuat jadwal ini, masak tidak mau melaksanakannya!" Dengan pengingatan seperti ini akan lebih mudah membuat anak mematuhinya. 

3. Lakukan Kontrol
Memang di awal agak sulit menerapkan jadwal harian pada anak. Butuh kontrol dari kita dengan selalu mengingatkan apa saja yang harus dilakukan anak saat pagi, siang, sore, dan malam. Dengan kontrol yang baik, anak akan terbantu untuk mematuhi jadwal hariannya.
Setelah anak bisa mengikuti jadwal hariannya, kontrol harus dilepas secara perlahan. Biarkan anak memegang kontrol sendiri terhadap jadwal hariannya, karena dengan kontrol sendiri anak bisa mendapatkan banyak manfaat seperti kedisiplinan dan tanggung jawab. Berbeda ketika kita yang harus terus-menerus mengingatkan anak, manfaatnya tak bisa diperoleh anak secara maksimal. 

4. Bersikap Fleksibel
Agar jadwal harian tak terkesan membatasi aktivitas anak, sebaiknya di saat-saat tertentu kita harus fleksibel. Contoh, saat libur sekolah, hari raya, atau di saat-saat spesial yang sulit menerapkan jadwal harian. Biarkan sesekali jadwal tidur siang anak telat sedikit karena dia sedang asyik bermain dengan sepupunya yang sedang berlibur di rumah, atau biarkan anak tidak belajar karena memang sekolah sedang libur, dan lainnya. Dengan sikap fleksibel ini, anak tidak akan merasa tertekan ataupun stres. 

Sikap fleksibel juga diperlukan terhadap si prasekolah yang egosentrisnya masih sangat tinggi, ataupun terhadap anak yang sudah terbiasa dengan jadwal yang sama sekali tidak teratur sehingga sangat sulit menjadwalkan kegiatan hariannya. Begitu pula bila anak tumbuh di lingkungan yang "hidup" tanpa jadwal. Setiap hari, anak-anak tetangga bermain sepanjang hari sehingga sangat sulit bagi kita meminta anak untuk tidur siang. Contoh, pukul 2 siang kita mengharuskan anak tidur siang padahal anak-anak lingkungan sekitar sedang ramai, hilir mudik, asyik bermain. 

Nah, menghadapi kondisi-kondisi tersebut, kita tak perlu menuntut anak untuk 100% mematuhi jadwal hariannya. Bila memang hanya 50% yang bisa diikutinya, itu pun sudah merupakan keberhasilan mengingat memang sangat sulit menerapkannya secara penuh. Ingat, jadwal harian dibuat tidak untuk mengungkung anak tetapi butuh fleksibilitas sehingga kebutuhan anak tetap terpenuhi. Yang penting, kita tetap berusaha memenuhi jadwal yang sudah dibuat.

Rabu, 03 April 2013

Tips Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua


Perkataan orang tua seringkali diabaikan anak, atau bahkan tidak didengarkan sama sekali. Untuk itu berikut ini adalah tips jitu agar anak mau mendengarkan perkataan Anda:

1. Jadilah pendengar yang baik. Anak-anak tidak bisa belajar menjadi pendengar yang baik bila mereka tidak memiliki panutan yang baik. Pastikan Anda menunjukan apa yang Anda harapkan dari mereka dengan menjadi pendengar yang baik. Seperti pepatah tua, “Kita memiliki dua telinga dan satu mulut karena ada alasannya” maksudnya, dengarkan anak Anda bicara dua kali lebih banyak daripada bicara Anda.

2. Berbicaralah dengan penuh hormat. Bila Anda menjadi seorang anak, bagaimana Anda ingin diajak berbicara? Gunakan harapan Anda itu sebagai modelnya.

3. Beri perhatian dulu, baru berbicara. Dapatkan perhatian anak terlebih dahulu. Pastikan mereka melihat Anda sebelum Anda berbicara. Secara verbal, Anda juga bisa meminta perhatian anak. Saat bertatapan, Anda mendapatkan perhatian penuh dari anak. Inilah saatnya Anda menyatakan permintaan.

4. Berikan Peringatan. Adakalanya sulit mengalihkan perhatian, terlebih saat mereka sedang melakukan sesuatu yang menarik. Beri batasan waktu kepada mereka. Contohnya, “Ayah/Ibu perlu bantuan kamu dua menit lagi ya,” atau “Ayah/Ibu ingin berbicara dengan kamu lima menit lagi ya.”

5. Turunkan volume suara. Daripada berteriak, lebih baik turunkan volume suara Anda. Bicaralah dengan nada lebih lembut, tidak keras.

6. Jangan berpanjang lebar. Anak tidak mau mendengar kuliah panjang lebar. Jadi ungkapkanlah permintaan Anda dengan singkat dan langsung, contohnya, “Bereskan tempat tidurmu sebelum bermain!” Kadang, irit kata-kata juga membantu. Cukup satu kata kadang bisa menjadi trik yang baik, misalnya, “PR!“