Tani
Tampilkan postingan dengan label cara mendidik balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara mendidik balita. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Desember 2015
Cara Mengenalkan Gadget Secara Bijak pada Anak
Era komunikasi dan teknologi saat ini tidak dipungkiri telah banyak membatu manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Hubungan antar-manusia seakan tak berjarak. Begitu banyak pekerjaan yang terbantu dan dimudahkan oleh komunikasi dan teknologi yang semakin canggih.
Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.
Gadget bisa berbentuk televisi, handphone, komputer dan ragam bentuk yang sama (tablet,Pad), play station, dan berbagai perangkat elektronik lain yang selalu up to date dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat manusia.
Namun, dalam perkembangannya, keberadaan gadget ini juga membawa dampak yang tak diharapkan bagi kehidupan manusia. Tak sedikit di jumpai dalam kehidupan di dalam rumah tangga, sekeluarga yang tinggal dalam satu rumah, namun sibuk dengan kehidupan bersama gadget masing-masing. Anak asyik menonton televisi atau bermain game sementara orang tua juga tak kalah asyiknya mengotak-atik handphone-nya. Atau, seringkali juga orang tua menyaksikan sebuah keluarga yang mengadakan acara makan bersama di sebuah tempat makan, tampak secara fisik mereka duduk bersebelahan, akan tetapi secara psikis masing-masing mereka berjauhan, karena masing-masingnya asyik berinteraksi dengan handphone-nya masing-masing, Kiranya tak salah bila sebuah temuan yang menyatakan bahwa gadget dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Berbagai dampak kurang baik juga akan timbul bila menggunakan gadget dengan tidak bijak. Terutama pada anak, penggunaan gadget yang berlebihan akan dapat menyebabkan kecanduan yang dapat menurunkan prestasi belajar dan berdampak pada perilaku sosial.
Dalam paparannya Nurlita Endah Karunia, S.Psi., psikolg dari Fakultas Psikolgi Ubaya menyampaikan bahwa dalam mengenalkan gadget pada anak perlu diperhatikan 3 hal.
1. frekuensi. Perlu dibuat ketentuan yang disepakati bersama tentang frekuensi, atau seberapa sering gadget tersebut di gunakan, apakah seminggu sekali atau dua kali, juga waktu penggunaannya dalam seminggu apakah di hari Sabtu atau Minggu. Bila kesepakatan telah dibuat, maka orang tua diharapkan untuk konsisten menegakkan aturan yang sudah dibuat, sehingga anak dapat belajar tentang disiplin dari penegakan aturan yang dilakukan.
2. durasi. Selain jumlah waktu penggunaan gadget, lamanya waktu penggunaan juga perlu dilakukan kesepakatan tentang lamanya waktu penggunaan gadget. Apakah satu jam untuk tiap kali pemakaian, dan seterusnya. Kesepakatan durasi ini perlu dilakukan agar anak tahu batas waktu. Seringkali anak memanfaatkan akhir pekan dengan bermain game sepanjang hari, bahkan tak jarang sampai lupa mandi. Dengan aturan durasi ini diharapkan anak dapat mengendalikan keinginan untuk terus bermain gadget.
3. isi. Tak kalah penting yang harus diperhatikan orang tua dalam penggunaan gadget adalah content/isi gadget yang dimainkan. Tak sedikit game di gadget yang mengajarkan kekerasan bahkan pembunuhan dengan menampilkan yang tak layak di lihat oleh anak. Dan, ini seringkali memicu perilaku agresivitas pada anak, karena anak cenderung berperilaku meniru.
Dari ke tiga hal tersebut diatas tak kalah pentingnya adalah melakukan tindakan pengamanan saat anak mulai dikenalkan pada gadget, langkah yang harus dilakukan adalah tidak ada ponsel berkamera. Penyalahgunaan ponsel sering terjadi pada anak. Maka jangan pernah memberikan ponsel berkamera kepada anak . Jika anak tertarik pada fotografi, lebih baik bila anak di belikan kamera betulan bukan ponsel berkamera. Non-aktifkan internet di tab. Anak boleh memegang tablet orang tua setelah menonaktifkan internet. Penggunaan internet yang terlalu dini tampak pengawasan bisa berdampak negatif pada perkembangan anak.
Melacak penggunaan internet, orang tua dapat memblokir situs-situs dewasa dengan menggunakan sistem Walling di koneksi Internet . Pastikan juga selalu melacak penggunaan internet anak. Pastikan pendampingan saat anak mulai bisa menggunakan internet. Batasi waktu bermain. Banyak anak mulai kecanduan game online atau video game. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain di depan layar komputer, ponsel, maupun TV. Maka, sebaiknya batasi kebiasaan buruk itu pada anak. Jangan sampai anak kehilangan waktu bersosialisasinya di luar.
Tak kalah pentingnya adalah perilaku orang tua itu senidri dalm menggunakan gadget. Tak jarang orang tua juga terlalu berlebihan dalam memakai gadgetnya sehingga seringkali anak merasa terabaikan dengan adanya gadget. Berikut tips agar hubungan sosial dalam keluarga menjadi sehat tanpa terintervensi adanya gadget.
Hindari tampak terlalu lama atau terlalu sering gunakan gadget di depan Anak. Meski zaman sekarang semua serba canggih, hindari menggunakan gadget di depan anak terlalu lama. Pastikan punya perhatian lebih banyak pada anak sehingga anak tidak belajar perilaku berlama-lama di depan gadget canggih. Hindari juga perilaku makan sambil menggunakan ponsel atau duduk di depan komputer.
Tidak perlu membelikan gadget canggih terlalu dini untuk anak. Sebenarnya tidak ada salahnya, hanya saja anak belum benar-benar membutuhkannya. Hal ini bisa berdampak di masa depan karena ia kehilangan masa kecil yang seharusnya bermain dan belajar, tapi malah tersita oleh sebuah gadget. Selain itu, bijak membelikan gadget juga akan menghindarkan anak dari resiko kriminal seperti perampokan karena anak kecil belum mampu untuk melindungi dirinya sendiri.
Selalu upayakan tatap muka.Batasi mengirim e-mail dan pesan instan kepad keluarga di rumah. Tunjukkan sentuhan pribadi melalui komunikasi tatap muka. Tidak harus menghabiskan banyak waktu,orang tua cukup membuat anak menjadi sesuatu yang berharga.
Jauhkan gadget saat kegiatan bersama keluarga.Selama acara sosial bersama keluarga, mari membiasakan untuk jauhkan segala gadget. Jangan di letakkan di atas meja, karena segala notifikasi dari gadget tersebut bisa mengalihkan perhatian. Menaruh gadget di atas meja bisa mengartikan anak yang ada di depan oarng tua tidak mearik . Jangan buat anak menjadi sakit hati, dan membalasnya dengan asyik bermain gadget-nya sendiri. Gadget bukan prioritas utama. Bangun pagi langsung mencari handphone. Banyak dari orang tua yang mengisi rutinitas pagi dengan cek e-mail, membalas BBM, atau sekadar melihat notifikasi sosial media. Meskipun sulit namun perlu dicoba. Mulailah hari dengan mengaji bersama anak atau meluangkan waktu untuk ngobrol ringan bersama keluarga sebelum berangkat ke kantor.
Tetapkan zona gadget free.Bisa diterapkan ruangan bebas gadget seperti di kamar dan ruang makan angan biarkan laptop, handphone, dan alat-alat teknologi lainnya mengganggu waktu kebersamaan anak dan orang tua. Bagaimana sebuah keluarga bisa saling mendekatkan diri, kalau orang tua dan anak sama-sama masih sibuk dengan gadget masing-masing.
Yang terpenting dari kesemuanya adalah kesadaran bahwa gadget hanyalah alat bantu manusia, maka penggunaan gadget yang bijak, baik untuk anak maupun orang tua akan menghindarkan kita semua dari perilaku negatif dari pengguanaan gadget yang tidak bijak.
Sumber
Rabu, 25 Maret 2015
Hal-Hal Yang Bisa Mempengaruhi Anak Menjadi Manja
Berikut ini adalah hal-hal yang bisa mempengaruhi anak menjadi manja:
1. Lingkungan Keluarga
Orang tua akan lebih besar memberi pengaruh bagi anak supaya anak tidak melakukan kemanjaan. Apabila orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak tidak hati-hati maka akan terbentuk sikap manja yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri yang akan mengakibatkan anak manja. Perbuatan dan sikap manja itu muncul diperoleh dari orang tua.
1. Lingkungan Keluarga
Orang tua akan lebih besar memberi pengaruh bagi anak supaya anak tidak melakukan kemanjaan. Apabila orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak tidak hati-hati maka akan terbentuk sikap manja yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri yang akan mengakibatkan anak manja. Perbuatan dan sikap manja itu muncul diperoleh dari orang tua.
Menurut Rusda Koto Sutadi (1994), “Anak tunggal, sulung, bungsu, anak sering ditinggal orang tua, persaingan di antara anak merupakan penyebab kemanjaan yang diperoleh dalam lingkungan keluarga”.
2. Lingkungan Masyarakat
Kemanjaan anak muncul karena pengaruh faktor lingkungan masyarakat. Masyarakat yang kurang memahami tentang perkembangan anak, akan berbuat dengan tidak terarah, yang semestinya perbuatan belum bisa diterima oleh anak ternyata sudah diberikan dan lama kelamaan anak akan lebih senang pemberian orang lain (masyarakat) daripada pemberian atau pengarahan orang tua meskipun sebenarnya tujuan orang tua mengarahkan supaya tidak muncul pada kemanjaan anak.
3. Lingkungan Sekolah
Kemanjaan anak muncul karena kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas. Biasanya si anak selalu memanggil-manggil gurunya, kemudian merengek-rengek minta dibantu dalam menyelesaikan tugasnya meskipun sebenarnya si anak mampu menyelesaikan tugasnya sendiri.
Kemanjaan anak muncul karena pengaruh faktor lingkungan masyarakat. Masyarakat yang kurang memahami tentang perkembangan anak, akan berbuat dengan tidak terarah, yang semestinya perbuatan belum bisa diterima oleh anak ternyata sudah diberikan dan lama kelamaan anak akan lebih senang pemberian orang lain (masyarakat) daripada pemberian atau pengarahan orang tua meskipun sebenarnya tujuan orang tua mengarahkan supaya tidak muncul pada kemanjaan anak.
3. Lingkungan Sekolah
Kemanjaan anak muncul karena kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas. Biasanya si anak selalu memanggil-manggil gurunya, kemudian merengek-rengek minta dibantu dalam menyelesaikan tugasnya meskipun sebenarnya si anak mampu menyelesaikan tugasnya sendiri.
Senin, 03 Februari 2014
Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Memiliki anak-anak yang punya kedisiplinan tinggi, memang cita-cita semua orangtua. Namun, adakalanya orangtua kesulitan “menjinakkan” anak-anak mereka. Agar jagoan cilik Anda mau mematuhi segala aturan yang ada di rumah, ikuti 19 trik berikut ini.
Sering kali, orangtua terus berkutat dengan masalah kedisiplinan yang idealnya selalu dipatuhi anak-anak. Orangtua terkadang harus memaksa anak-anaknya untuk disiplin di rumah, menghormati orangtua, bicara dengan nada yang santun, rajin belajar, tidur siang tepat waktu, yang intinya mengatur semua gerak-gerik Si Kecil.
Namun, harus tetap ingat, kedisiplinan yang Anda maksud tak hanya melakukan koreksi pada tingkah laku anak-anak saja. Tapi juga mengajarkan kepada mereka cara untuk bisa mengontrol dirinya, serta peduli akan lingkungannya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi orang yang berhasil di kemudian hari.
Untuk itu, ada beberapa pendekatan yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak-anak mendisiplinkan dirinya.
1. Tegas
Jika Anda melarang anak-anak untuk tidak melakukan sesuatu, buatlah alasan-alasan yang masuk akal, dengan memberikan penjelasan dan bimbingan padanya. Anak jaman sekarang pasti tidak akan mau menerima alasan seperti, “Jangan duduk di depan pintu, pamali!” Atau, “Jangan main terlalu sore, nanti diculik Kalong Wewe!” Beritahu alasannya, kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu atau bermain sore-sore, menjelang malam.
2. Jangan Plin Plan
Pada dasarnya, Si Kecil akan meniru apa yang orang dewasa lakukan. Begitu pun jika Anda dan pasangan bertindak plin-plan terhadap suatu keputusan. Misalnya, Anda tak setuju dia melompat-lompat di tempat tidur, sementara pasangan Anda membiarkannya. Hal ini hanya akan membuat dia bingung, akibatnya dia jadi mengabaikan ketidaksetujuan Anda. Jadi, buatlah kesepakatan keputusan dengan pasangan agar anak-anak jadi mudah dalam bersikap.
3. Kompromi
Anak-anak tak selalu bisa mengatasi dan membedakan antara persoalan yang besar dan kecil. Sesekali, berkompromi dan mengertilah diri mereka. Tindakan kompromi akan membuat anak-anak menjadi lebih mudah menghadapi persoalan yang lebih besar nantinya. Misalnya, jika dia lalai menengok ke kiri-kanan saat akan menyeberang jalan, lain kali dia tak akan begitu lagi. Jika Anda keberatan dengan sikapnya, nyatakan dengan jelas. Misalnya, “Berhentilah melempar-lempar mainanmu, Nak!” Tapi, jangan katakan, “Hei, mainannya jangan dilempar-lempar, dong!”
4. Beri Bimbingan
Jika anak Anda mengobrak-abrik buku dari lemari yang ada di ruang keluarga, katakan saja, “Maukah kamu berhenti ‘bermain’ buku? Baca saja, ya di kamarmu?” Jika dia tak memedulikan perkataan Anda, dengan cara yang lembut namun tegas, Anda bisa membimbingnya ke kamar dan katakan padanya, dia boleh kembali ke ruang keluarga jika mau mendengarkan kata-kata Anda.
5. Beri Peringatan
Jika anak tahu aturan yang telah Anda buat, pada usia tertentu, Anda hanya perlu bertanya padanya, ketika melakukan pelanggaran. Dia akan langsung merasa segan pada Anda, karena ada konsekuensi atau sanki yang harus diterimanya segera, setelah pelanggaran dibuat. Jika Anda terbiasa membuat batasan peringatan sampai hitungan 5, kali ini kurangi sampai hitungan ke 3, sehingga anak akan belajar untuk segera mengubah sikap setelah diberi peringatan.
6. Beri Alasan
Jika anak bermain-main dengan benda tajam, Anda tentu harus lebih berhati-hati memperingatinya. Terangkan dengan bahasa yang jelas dan sederhana, apa yang akan Anda lakukan dan sebutkan alasannya. Misalnya, “Mama simpan pisaunya ya, Sayang, nanti bisa melukai tanganmu!” Atau, “Mama minta kamu jangan main air ya, nanti lantainya jadi licin dan bisa bikin kamu terjatuh.”
7. Jangan Tunda Hukuman
Jika Anda ingin menghukum anak yang tidak disiplin, hukumlah segera setelah Anda tahu dia tidak disiplin. Jangan sampai Anda menunda memberi hukuman padanya. Sebab, anak-anak tidak akan mau menerima hukuman beruntun atau mengulangi kesalahan. Berilah hukuman yang mendidik, seperti menyapu lantai, merapikan tempat tidur, tidak main play station atau barbie, atau membersihkan kamar mandi.
8. Tetap Tenang
Marah sambil berteriak, membentak, atau menceramahi anak tanpa henti, akan membuat Anda menjadi orang yang melakukan tindak kekerasan verbal terhadap anak. Tindakan ini justru bisa merusak rasa penghargaan diri pada anak Anda. Akibatnya, anak jadi tidak memiliki rasa pede di hadapan orangtuanya.
9. Bertekuk Lutut
Menunduklah saat berbicara pada Si Kecil, terutama saat memberi kritikan padanya. Tekuklah lutut Anda atau ambil posisi duduk di hadapnnya, agar pandangan mata Anda sejajar dengannya. Dengan sikap seperti ini, Anda tak perlu merasa khawatir akan kehilangan respek darinya. Justru sebaliknya, dia akan semakin menghormati dan menghargai Anda sebagai orangtua.
10. Jangan Ceramah
Ajaklah Si Kecil ngobrol dan berdiskusi, dari pada diceramahi panjang lebar. Meskipun tampaknya pernyataan ini tidak bernada keras, seperti, “Sudah berkali-kali Mama bilang …” Atau, “Setiap saat kamu kok …”, tetap memberi kesan seolah-olah dia ditakdirkan untuk selalu mengecewakan Anda, apapun yang dia perbuat.
Cobalah gulirkan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Merokok, kan, enggak baik untuk anak-anak, ya?” Atau, “Apakah kamu suka jika temanmu mengganggu terus di sekolah, Nak?” Kritiklah sikapnya, jangan salahkan dirinya.
11. Tunjukkan Sikap Positif
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk Si Kecil. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, “Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula.”
12. Bermain Bersama
Jika sempat, tak ada salahnya Anda meluagkan waktu sebenatr dan ikut bermain-main denganyya. Buatlah permainan bernuansa perlombaan semacam “siapa cepat dia dapat.” Permainan ini akan melatih anak Anda bertindak cepat setelah ada aba-aba dari Anda, atau yang dia ucapkan sendiri.
13. Hindari Rasa Jengkel
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.
14. Jangan Menampar!
Tamparan keras yang Anda berikan di wajahnya, akan berpengaruh buruk bagi diri anak, juga Anda. Anak yang pernah ditampar orangtuanya akan merasa lebih menderita, dari pada perasaan tidak dihargai atau depresi sekalipun. Tindakan ini pun sekaligus bisa mengajarkan, secara tidak langung pada anak, untuk menyelesaikan segala persoalan dengan cara kekerasan.
15. Jangan Menyuap
Jangan membiasakan memberi uang atau hadiah kepada anak saat Anda memintanya untuk mengerjakan atau melarang sesuatu. Kebiasaan seperti ini bisa membuat anak jadi tidak mau mengerjakan atau menghindari sesuatu, jika belum diberi uang atau hadiah.
16. Bersikap Dewasa
Bersenda gurau dengan cara melucu berlebihan, dengan menggigiti atau menarik-narik rambut anak Anda, untuk menunjukkan rasa sayang, merupakan tindakan yang salah. Bersikaplah sewajarnya, sebagai orang dewasa seperti menggenggam tangannya, memeluknya, atau memberi ciuman di kedua pipi atau kepalanya.
17. Hadapi Rengekan
Katakan kepada anak-anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu dan tegaskan pula, Anda tidak akan mengabulkan permintaannya jika disampaikan dengan cara merengek atau menangis. Kecuali, jika dia meminta sesuatu dengan sikap yang manis dan sopan.
18. Contoh Baik
Jika suatu kali anak Anda pernah memerogoki Anda sedang berdebat dengan pasangan tanpa menggunakan kekerasan, dia akan meniru sikap baik itu. Tapi, jika Anda dan pasangan bertengkar dengan saling menghina, memukul, atau berteriak, anak Anda akan meniru sikap-sikap buruk itu di kemudian hari.
Dari 18 trik di atas, yang terpenting, Anda harus mengerti terlebih dulu kondisi anak-anak. Berusaha untuk membuatnya menjadi lebih disiplin, tanpa memahami bagaimana dan apa yang dia lakukan, sama halnya seperti menuangkan sirup ke dalam botol tertutup. Dengan kata lain, percuma saja dan hanya akan memperburuk keadaan di kemudian hari.
Hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak memang sangat perlu dilakukan. Yang bisa Anda lakukan segera untuk mengatasi masalah ini, yaitu Anda hanya perlu bertanya kepada anak, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa dia berbuat begitu. Pada beberapa kasus, anak-anak dapat berterus terang tentang masalahnya kepada orangtua. Namun, jika dia tak mau berterus terang, sementara Anda tidak mempunyai cara lain untuk bertindak, tetaplah berpikir positif.
Sumber: myquran.org
Senin, 11 November 2013
Mendidik Anak Bermain Dalam Kerapian
Mainan berserakan, buku-buku berhamburan, belum lagi baju kotor ikut tercecer di mana-mana. Hmm, rasanya baru tadi pagi Anda membersihkan kamar sang buah hati, eh tahu-tahu kamar ini sudah kembali seperti kapal pecah.
Jika Anda sudah bosan menjadi 'mom cleaner', maka kini saatnya untuk bertindak mendisiplinkan buah hati agar ia menjadi lebih terorganisir.
Berbagai keuntungan pastinya bakal didapatkan jika Anda menerapkan disiplin pada anak sejak masa muda mereka. Yang pertama, Anda tidak perlu lagi capek-capek membersihkan kapal pecah tersebut. Kedua, ini juga melatih mental anak untuk lebih bertanggung jawab atas tiap tindakan mereka, maksudnya pastikan mereka tahu bahwa bila berani membongkar maka harus berani membereskan juga.
Yang perlu Anda ketahui sebelum mendisiplinkan adalah bahwa anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat lebih dari yang mereka dengar. Jadi, jika ingin kamar atau bahkan seluruh rumah selalu terjaga kebersihan dan kerapiannya, maka berikan teladan, pelatihan, dan pengaturan yang nyata bagi mereka.
Taruh barang pada tempatnya. Hal ini sangat penting untuk mendidik agar mental anak lebih terorganisir dan rapi. Selain itu, bukankah bakal memudahkan Anda juga jika ingin mencari barang tertentu saat itu diperlukan?! Jika memungkinkan, minta bantuan putra-putri Anda untuk melabeli kotak-kotak atau lemari penyimpanan. Misalnya kotak ini untuk buku, satunya untuk mainan, dan lain-lain.
Beri batasan tempat bermain. Jika tidak ingin rumah Anda dipenuhi dengan mainan yang berserakan, maka Anda harus menerapkan prinsip yang satu ini. Untung-untung jika rumah Anda memiliki banyak kamar sehingga anak mempunyai kamar bermain sendiri, namun bila tidak, maka berikan space khusus bagi mereka untuk dapat bermain dengan leluasa. Namun, ingatkan mereka untuk tidak melanggar batas wilayah tersebut. Dengan lain kata, tegaskan bahwa Anda tidak ingin melihat ada mobil-mobilan di atas meja dapur.
Beri batasan waktu bermain. Selain ruang lingkup, anak juga harus memiliki jam main. Mereka tidak seharusnya dibiarkan bermain sepanjang waktu. Sebaiknya Anda mengijinkan mereka bermain setelah mereka menyelesaikan tiap tanggung jawab yang ada, misalnya selesai mengerjakan pr dan pekerjaan rumah lainnya. Dengan demikian jam bermain tersebut bisa dipakai sebagai reward bagi anak-anak. Pilihlah mainan yang edukatif agar tumbuh kembang anak lebih baik lagi.
Pilih hasil karya yang terbaik saja. Adalah hal yang sangat membesarkan hati jika anak melihat bahwa hasil karya mereka cukup layak untuk dipajang di salah satu sudut rumahnya.
Namun, tak semua karya mereka akan muat untuk dipajang. Jadi, saat akhir tahun ajaran tiba, maka duduklah dan diskusikan dengan mereka karya-karya mana yang bakal dipajang, dibukukan, dan dibuang.
Jika Anda sudah bosan menjadi 'mom cleaner', maka kini saatnya untuk bertindak mendisiplinkan buah hati agar ia menjadi lebih terorganisir.
Berbagai keuntungan pastinya bakal didapatkan jika Anda menerapkan disiplin pada anak sejak masa muda mereka. Yang pertama, Anda tidak perlu lagi capek-capek membersihkan kapal pecah tersebut. Kedua, ini juga melatih mental anak untuk lebih bertanggung jawab atas tiap tindakan mereka, maksudnya pastikan mereka tahu bahwa bila berani membongkar maka harus berani membereskan juga.
Yang perlu Anda ketahui sebelum mendisiplinkan adalah bahwa anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat lebih dari yang mereka dengar. Jadi, jika ingin kamar atau bahkan seluruh rumah selalu terjaga kebersihan dan kerapiannya, maka berikan teladan, pelatihan, dan pengaturan yang nyata bagi mereka.
Taruh barang pada tempatnya. Hal ini sangat penting untuk mendidik agar mental anak lebih terorganisir dan rapi. Selain itu, bukankah bakal memudahkan Anda juga jika ingin mencari barang tertentu saat itu diperlukan?! Jika memungkinkan, minta bantuan putra-putri Anda untuk melabeli kotak-kotak atau lemari penyimpanan. Misalnya kotak ini untuk buku, satunya untuk mainan, dan lain-lain.
Beri batasan tempat bermain. Jika tidak ingin rumah Anda dipenuhi dengan mainan yang berserakan, maka Anda harus menerapkan prinsip yang satu ini. Untung-untung jika rumah Anda memiliki banyak kamar sehingga anak mempunyai kamar bermain sendiri, namun bila tidak, maka berikan space khusus bagi mereka untuk dapat bermain dengan leluasa. Namun, ingatkan mereka untuk tidak melanggar batas wilayah tersebut. Dengan lain kata, tegaskan bahwa Anda tidak ingin melihat ada mobil-mobilan di atas meja dapur.
Beri batasan waktu bermain. Selain ruang lingkup, anak juga harus memiliki jam main. Mereka tidak seharusnya dibiarkan bermain sepanjang waktu. Sebaiknya Anda mengijinkan mereka bermain setelah mereka menyelesaikan tiap tanggung jawab yang ada, misalnya selesai mengerjakan pr dan pekerjaan rumah lainnya. Dengan demikian jam bermain tersebut bisa dipakai sebagai reward bagi anak-anak. Pilihlah mainan yang edukatif agar tumbuh kembang anak lebih baik lagi.
Pilih hasil karya yang terbaik saja. Adalah hal yang sangat membesarkan hati jika anak melihat bahwa hasil karya mereka cukup layak untuk dipajang di salah satu sudut rumahnya.
Namun, tak semua karya mereka akan muat untuk dipajang. Jadi, saat akhir tahun ajaran tiba, maka duduklah dan diskusikan dengan mereka karya-karya mana yang bakal dipajang, dibukukan, dan dibuang.
Rabu, 22 Mei 2013
Tips Mendidik Anak Dengan Sabar
Bagi para pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini (paud) maupun di taman kanak-kanak dan juga bagi orang tua hari ini ada tambahan satu tips lagi dalam mendidik dan mengasuh anak. Tips yang satu ini berkaitan dengan Anda sebagai seorang pendidik. Dalam artikel kali ini kita akan mencoba membahas sikap emosional yang seringkali dialami oleh pendidik dan orang tua dalam mendidik anak. Sebagai sosok yang menjadi panutan bagi anak Anda dituntut untuk bisa mendidik anak-anak dengan baik dan benar serta positif bagi perkembangan anak.
Mendidik anak perlu kesabaran dan kebijakan yang tinggi. bagaimanapun, kondisi emosional pendidik / orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak. jika anak sering berada di lingkungan emosional yang tidak stabil maka secara otomatis anak akan memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah. tentunya ini sangat merugikan karena keberhasilan seseorang kelak lebih banyak ditentukan karakter anak yang didalamnya kondisi emosional seseorang.
Membuat anak memiliki karakter dan kecerdasan emosional tentu memerlukan proses panjang dimana setiap orang tua harus berusaha mengendalikan emosi pada saat mendidik anakmaupun di kehidupan sehari hari yang sejatinya merupakan lingkungan sesungguhnya dari perkembangan anak Anda.
Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi ketika mengasuh anak antara lain :
1. Pujilah hal menyenangkan yang dilakukan anakmaka kita juga akan ikut senang
2. Sikapi dengan bijak setiap kesalahan yang dilakukan anak dan segera tunjukkan langkah perbaikannya dengan sabar dan konsisten
3. Tarik nafas secara perlahan sedalam mungkin dan lepaskan tanpa sepengetahuan anak jika emosi Anda telah memuncak dengan ulah anak setelah itu tersenyumlah terhadap anak Anda.
Rabu, 17 April 2013
Cara Mengajarkan Anak Bersikap Baik
Sikap seseorang dapat ditentukan oleh pendidikan anak usia dini. Sebagai orang tua, Anda harus memperhatikan bagaimana anak-anak Anda di masa depan. Itulah mengapa Anda perlu mengajari mereka nilai-nilai yang baik sehingga mereka akan memiliki sikap yang baik dan sopan santun. Oleh karena itu, kami memiliki beberapa tips untuk Anda.
Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa Anda menjadi contoh anak-anak Anda. Mereka akan meniru apa yang Anda lakukan. Jika Anda ingin anak-anak Anda memiliki sopan santun dan etika, kemudian Anda menjadi orang pertama yang mengajarkan mereka nilai-nilai yang baik.
Jika Anda memiliki lebih dari satu anak, pastikan bahwa Anda mendisiplinkan mereka berdua. Jangan berpihak ke salah satu anak. Beberapa orang tua memperlakukan anak-anak mereka yang lebih muda kurang disiplin dibandingkan yang lebih tua. Pastikan bahwa Anda tetap adil terhadap mereka. Sejak awal, Anda harus tetapkan nilai-nilai baik ke dalam pikiran anak pertama. Ketika tua dia akan bersikap baik, yang lebih muda akan meniru sikap baik kakaknya.
Anda dapat mengajarkan mereka untuk bersikap sopan, terutama dalam bahasa. Gunakan beberapa ungkapan sopan, seperti “tolong”, “permisi”, “terima kasih kembali”, “terima kasih”, “Bolehkah saya?” dan seterusnya ketika Anda berbicara dengan suami/istri Anda atau orang lain. jika mereka sering melihat hal seperti ini, mereka akan terbiasa dengan menggunakan frase tersebut. Terus berlatih frase sopan meskipun Anda tidak menyukai orang yang Anda ajak bicara. Katakan kepada mereka itu bukan masalah, tapi untuk bersikap sopan adalah penting. Juga, memberitahu mereka bahwa setiap orang berhak untuk dihormati.
Anda juga dapat mengajari mereka cara makan. Buatlah makan malam sebagai kegiatan yang menyenangkan. Jangan hanya memberitahu mereka seperti mahasiswa perkuliahan. Selain cara makan, Anda dapat memberitahu mereka etika menggunakan barang-barang orang lain tanpa izin, bilang bahwa mereka tidak sopan. Anda dapat memberi mereka misalnya dengan meminta izin untuk menggunakan barang-barang mereka.
Satu hal yang lebih penting, Anda harus berhati-hati ketika mereka membuat kesalahan. Beri mereka teguran sopan dan edukatif. Jangan berteriak kepada mereka atau menyalahkan mereka. Anda dapat mengatakan, “Jenny, kau gadis yang baik, Seorang gadis yang baik tidak berbohong, kan, Sayang?” Di sisi lain, sementara mereka melakukan hal-hal yang baik, memuji mereka. Pujian akan memotivasi mereka untuk melakukan nilai-nilai yang lebih baik.
Diatas merupakan tips untuk membangun sikap yang baik untuk anak-anak Anda. Kami berharap bahwa itu berguna untuk Anda. Pastikan bahwa Anda mengajarkan mereka sopan santun sedini mungkin sehingga mereka memiliki kebiasaan positif ketika mereka tumbuh menjadi remaja dan dewasa.
Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa Anda menjadi contoh anak-anak Anda. Mereka akan meniru apa yang Anda lakukan. Jika Anda ingin anak-anak Anda memiliki sopan santun dan etika, kemudian Anda menjadi orang pertama yang mengajarkan mereka nilai-nilai yang baik.
Jika Anda memiliki lebih dari satu anak, pastikan bahwa Anda mendisiplinkan mereka berdua. Jangan berpihak ke salah satu anak. Beberapa orang tua memperlakukan anak-anak mereka yang lebih muda kurang disiplin dibandingkan yang lebih tua. Pastikan bahwa Anda tetap adil terhadap mereka. Sejak awal, Anda harus tetapkan nilai-nilai baik ke dalam pikiran anak pertama. Ketika tua dia akan bersikap baik, yang lebih muda akan meniru sikap baik kakaknya.
Anda dapat mengajarkan mereka untuk bersikap sopan, terutama dalam bahasa. Gunakan beberapa ungkapan sopan, seperti “tolong”, “permisi”, “terima kasih kembali”, “terima kasih”, “Bolehkah saya?” dan seterusnya ketika Anda berbicara dengan suami/istri Anda atau orang lain. jika mereka sering melihat hal seperti ini, mereka akan terbiasa dengan menggunakan frase tersebut. Terus berlatih frase sopan meskipun Anda tidak menyukai orang yang Anda ajak bicara. Katakan kepada mereka itu bukan masalah, tapi untuk bersikap sopan adalah penting. Juga, memberitahu mereka bahwa setiap orang berhak untuk dihormati.
Anda juga dapat mengajari mereka cara makan. Buatlah makan malam sebagai kegiatan yang menyenangkan. Jangan hanya memberitahu mereka seperti mahasiswa perkuliahan. Selain cara makan, Anda dapat memberitahu mereka etika menggunakan barang-barang orang lain tanpa izin, bilang bahwa mereka tidak sopan. Anda dapat memberi mereka misalnya dengan meminta izin untuk menggunakan barang-barang mereka.
Satu hal yang lebih penting, Anda harus berhati-hati ketika mereka membuat kesalahan. Beri mereka teguran sopan dan edukatif. Jangan berteriak kepada mereka atau menyalahkan mereka. Anda dapat mengatakan, “Jenny, kau gadis yang baik, Seorang gadis yang baik tidak berbohong, kan, Sayang?” Di sisi lain, sementara mereka melakukan hal-hal yang baik, memuji mereka. Pujian akan memotivasi mereka untuk melakukan nilai-nilai yang lebih baik.
Diatas merupakan tips untuk membangun sikap yang baik untuk anak-anak Anda. Kami berharap bahwa itu berguna untuk Anda. Pastikan bahwa Anda mengajarkan mereka sopan santun sedini mungkin sehingga mereka memiliki kebiasaan positif ketika mereka tumbuh menjadi remaja dan dewasa.
Selasa, 16 April 2013
Tips Agar Anak Tidak Kecanduan Bermain Internet
Internet semakin mudah untuk diakses oleh siapa saja, dimana saja dan juga kapan saja dan salah satunya adalah anak-anak. Memang dengan adanya internet semua pekerjaan akan semakin mudah, akan tetapi apabila ini terus dilakukan bisa berbahaya.
Terutama bagi anak-anak, oleh karena itu orang tua harus memperhatikan peralatan mainan sang anak agar tidak kehilangan arah yaitu internet. Berikut ini adalah cara agar anak tidak kecanduan pengaruh buruk internet:
1. Periksalah akun media sosial
Jika anda orang tua yang baik cobalah untuk selalu memeriksa akun sosial media anak Anda secara rutin hal ini agar anak tidak masuk ke dalam pergaulan bebas.
2. Jangan letakkan komputer di kamar anak
Anda meletakkan komputer di kamar anak anda? sebaiknya segeralah untuk memindahkan itu semua karena anak-anak bisa saja dengan bebasnya membuka situs yang sebenarnya tidak boleh di buka untuk orang seusianya.
3. Membuat peraturan rumah
Ini salah satu cara yang cukup ampuh, dengan memakai peraturan rumah seperti tidak boleh bermain di malam hari atau harus tidur sesuai jadwal yang telah di tentukan oleh anda para orang tua.
4. Ajari tentang tata krama internet
Dengan mengajarkan tata krama di internet maka anak akan dengan mudah untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan juga orang lain.
Terutama bagi anak-anak, oleh karena itu orang tua harus memperhatikan peralatan mainan sang anak agar tidak kehilangan arah yaitu internet. Berikut ini adalah cara agar anak tidak kecanduan pengaruh buruk internet:
1. Periksalah akun media sosial
Jika anda orang tua yang baik cobalah untuk selalu memeriksa akun sosial media anak Anda secara rutin hal ini agar anak tidak masuk ke dalam pergaulan bebas.
2. Jangan letakkan komputer di kamar anak
Anda meletakkan komputer di kamar anak anda? sebaiknya segeralah untuk memindahkan itu semua karena anak-anak bisa saja dengan bebasnya membuka situs yang sebenarnya tidak boleh di buka untuk orang seusianya.
3. Membuat peraturan rumah
Ini salah satu cara yang cukup ampuh, dengan memakai peraturan rumah seperti tidak boleh bermain di malam hari atau harus tidur sesuai jadwal yang telah di tentukan oleh anda para orang tua.
4. Ajari tentang tata krama internet
Dengan mengajarkan tata krama di internet maka anak akan dengan mudah untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan juga orang lain.
Senin, 08 April 2013
Kegiatan Untuk Perkembangan Jiwa Anak
Macam-macam kegiatan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak
A. Kegiatan Aktif
1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.
2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.
3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.
4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.
5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.
B. Kegiatan Pasif
1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.
2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.
3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya
A. Kegiatan Aktif
1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.
2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.
3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.
4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.
5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.
B. Kegiatan Pasif
1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.
2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.
3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya
Selasa, 18 Desember 2012
Mendidik Anak Melalui Kegiatan Mewarnai
Kebanyakan anak-anak menikmati kegiatan mewarnai. Anak-anak bisa belajar banyak hal dari kegiatan mewarnai. mereka sering belajar dengan baik ketika suatu pelajaran diajarkan dengan cara bermain. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari kegiatan mewarnai yang di lakukan oleh anak-anak.
Mengembangkan keterampilan motorik
Ketika seorang anak mewarnai sering tidak dianggap sebagai pelajaran yang membangun keterampilan. Namun, mewarnai adalah kegiatan yang bagus untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan motorik halus mereka. Pengembangan yang tepat dari keterampilan motorik halus mereka akan membantu anak-anak dikemudian hari ketika mereka belajar hal-hal seperti menulis, berpakaian dan mampu makan sendiri. Sering kali mewarnai adalah pengalaman pertama dalam belajar memahami alat tulis. Seorang anak belajar bagaimana mengkoordinasi tangan dan mata untuk fokus pada garis-garis dalam kertas mewarnai.
Pemahaman pelajaran
Para ahli percaya bahwa anak-anak belajar dengan baik melalui bermain. Sebuah kegiatan mewarnai sederhana dapat membantu pemahaman pelajaran yang diajarkan di kelas. Para guru pendidikan anak usia dini sering memberikan lembar mewarnai yang fokus pada huruf, bentuk dan angka. Tanpa disadari anak-anak bahwa mereka juga sudah belajar dengan lembar kegiatan mewarnai. Anak-anak juga dapat belajar pengenalan warna dan bagaimana menggunakan warna.
Ekspresi diri
Beberapa anak-anak sering mengalami kesulitan untuk mengekspresikan perasaan mereka. Mewarnai dapat mengeluarkan ekspresi perasaan mereka dan mengungkapkan pikiran mereka dengan sangat bebas. Mewarnai juga dapat menjadi cara yang bagus untuk seorang anak bersantai setelah seharian sibuk dengan kegiatan mereka. Menggambar bebas juga dapat membantu mengembangkan imajinasi anak.
Belajar konsentrasi
Memperkenalkan kegiatan mewarnai pada anak dapat membantu mereka belajar bagaimana untuk berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas. Seorang anak akan sangat senang saat mereka berhasil menyelesaikan sebuah tugas. Selain itu, ketika seorang anak fokus pada tugas dan berhasil menyelesaikan kegiatan mewarnainya dia akan merasa bangga. Penyelesaian tugas mewarnai juga mengajarkan anak nilai kerja keras dan dedikasi. Ketika konsentrasi anak meningkatkan mereka akan dapat lebih fokus pada tugas-tugas lain yang lebih kompleks seperti matematika.
Terampil dalam mengambil keputusan
Memberikan anak-anak suatu kegiatan mewarnai membantu mereka mengembangkan keterampilan dalam mengambil keputusan mereka. Ketika menyelesaikan lembar mewarnai anak-anak dapat memutuskan apa warna yang akan digunakan dan kemana arah gambar. Seorang anak juga dapat membuat keputusan apakah ingin menyelesaikan kegiatannya atau tidak. Anak-anak yang mampu membuat keputusan untuk menyelesaikan kegiatannya sering memiliki waktu yang lebih baik secara akademis.
Langganan:
Postingan (Atom)








