Tani

Tampilkan postingan dengan label pupuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pupuk. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Februari 2015

Mengapa Harus Menggunakan Pupuk Organik

Pupuk anorganik atau lebih dikenal dengan sebutan pupuk kimia seperti Urea, ZA, SP36, KCL, NPK, Ponska dan lain-lain saat ini adalah pupuk andalan utama bagi masyarakt tani di Indonesia, untuk kepentingan jangka pendek pupuk kimia memang bisa diandalkan sebagai pemicu untuk meningkatkan produk hasil pertanian, namun jika digunakan secara terus menerus dalam jangka waktu lama penggunaan pupuk kimia justru akan menjadi akan berakibat mengikis kesuburan tanah itu sendiri...

Dalam jangka pendek, pupuk kimia memang mampu
mempercepat masa tanam karena kandungan haranya bisa diserap langsung oleh tanah, namun di sisi lain dalam jangka panjang justru akan menimbulkan dampak yang negatif.

Menurut riset para ahli, pada umumnya tanaman tidak bisa menyerap 100% pupuk kimia. Selalu akan ada residua atau sisanya. Sisa-sisa pupuk kimia yang tertinggal di dalam tanah ini, bila telah terkena air akan mengikat tanah seperti lem/semen. Setelah kering, tanah akan lengket satu dengan lain (alias tidak gembur lagi), dan keras. Selain keras, tanah juga menjadi masam. Kondisi ini membuat organisme-organisme pembentuk unsur hara (organisme penyubur tanah) menjadi mati atau berkurang populasinya. Beberapa binatang yang menggemburkan tanah seperti cacing tidak mampu hidup di kawasan tersebut dan kehilangan unsur alamiahnya. Bila ini terjadi, maka tanah tidak bisa menyediakan makanan secara mandiri lagi, dan akhirnya menjadi sangat tergantung pada pupuk tambahan, khususnya pupuk kimia.

Penggunaan pupuk kimia juga berdampak pada lingkungan, penggunaan yang terlalu banyak akan mengakibatkan eutrofikasi. Pupuk mengandung zat seperti nitrat dan fosfat. Zat ini menjadi racun untuk kehidupan akuatik. Dengan demikian meningkatkan pertumbuhan yang berlebihan dari ganggang di air dan menurunkan kadar oksigen. Hal ini menyebabkan lingkungan yang beracun dan menyebabkan kematian fauna di perairan.

Pupuk kimia juga terdiri dari zat dan bahan kimia seperti metana, karbon dioksida, amonia, dan nitrogen. Hal ini pada saatnya akan menyebabkan pemanasan global dan perubahan cuaca. Bahkan, nitrous oxide, yang merupakan produk sampingan dari nitrogen, adalah gas rumah kaca ketiga yang paling signifikan, setelah karbon dioksida dan metana.

Apabila ketergantungan pada pupuk kimia tidak terelakkan, maka tanah pertanian kita seperti masuk dalam lingkaran setan. Dipakai semakin banyak, tanah semakin rusak. Dan tanah yang semakin rusak akan membuat petani semakin bergantung pada pupuk kimia. Itulah yang terjadi pada hampir semua lahan pertanian di Indonesia, bahkan mungkin dunia.

Fakta-fakta ini mengkhawatirkan dan perlu diambil langkah serius sesegera mungkin untuk menghindari akibat yang lebih parah. Upaya peningkatan produksi pangan yang salah, dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bahan kimia, memberikan dampak negatif yang berlanjut pada pertaruhan nilai kesehatan manusia akibat residu kimia yang ditinggalkan. Dampak serius terhadap lingkungan menyebabkan penurunan kualitas produksi akibat kerusakan unsur hara tanah yang diikat oleh residu kimia dalam tanah.

Wajar jika kini ternyata petani semakin kehilangan kesuburan tanahnya. Di satu sisi kemampuan produktifitas tanah semakin menurun, di sisi lain untuk mempertahankan produktifitasnya coba digenjot dengan pemakaian pupuk yang semakin meningkat. Artinya, penghasilan petani semakin menurun akibat menurunnya produktifitas tanah seiring dengan meningkatnya biaya akibat meningkatnya kebutuhan pupuk.

Hal semacam ini tentunya nanti akan berdampak pada petani itu sendiri. Karenanya petani harus diberikan pemahaman tentang dampak atau efek dari penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Sebaliknya, jika para petani menggunakan pupuk alami, manfaat yang diperoleh cukup besar selain baik untuk tanaman juga akan baik bagi tanah dan lingkungan sekitar dan dapat diandalkan untuk jangka panjang. Pupuk organik bisa menjadi opsi pilihan petani untuk bisa meningkatkan produtifitas pertaniannya tetapi tetap berpijak pada unsur ramah lingkungan.

Dalam Permentan No.2 tahun 2006 tentang pupuk organik dan pembenah tanah, pupuk organik didefinisikan sebagai pupuk yang sebagian atau seluruhnya berasal dari dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Definisi tersebut telah dengan jelas telah menerangkan apa itu pupuk organik.


Pupuk organik mempunyai beragam jenis dan varian. Jenis-jenis pupuk organik dibedakan dari bahan baku, metode pembuatan dan wujudnya. Dari sisi bahan baku ada yang terbuat dari kotoran hewan, hijauan atau campuran keduanya. Dari metode pembuatan ada banyak ragam seperti kompos aerob, bokashi, dan lain sebagainya. Sedangakan dar sisi wujud ada yang berwujud serbuk, cair maupun granul atau tablet.

Berikut ini adalah manfaat yang diperoleh apabila menggunakan pupuk organik:


  • Pupuk organik mengandung unsur mikro yang lebih lengkap dibanding pupuk anorganik.
  • Pupuk organik akan memberikan kehidupan mikroorganisme tanah yang selama ini menjadi sahabat petani dengan lebih baik.
  • Pupuk organik mampu berperan memobilisasi atau menjembatani hara yang sudah ada ditanah sehingga mampu membentuk partikel ion yang mudah diserap oleh akar tanaman.
  • Pupuk organik berperan dalam pelepasan hara tanah secara perlahan dan kontinu sehingga dapat membantu dan mencegah terjadinya ledakan suplai hara yang dapat membuat tanaman menjadi keracunan.
  • Pupuk organik membantu menjaga kelembaban tanah dan mengurangi tekanan atau tegangan struktur tanah pada akar-akar tanaman, sehingga tanaman terhindar dari kekeringan.
  • Pupuk organik dapat meningkatkan struktur tanah dalam arti komposisi partikel yang berada dalam tanah lebih stabil dan cenderung meningkat karena struktur tanah sangat berperan dalam pergerakan air dan partikel udara dalam tanah, aktifitas mikroorganisme menguntungkan, pertumbuhan akar, dan kecambah biji.
  • Pupuk organik sangat membantu mencegah terjadinya erosi lapisan atas tanah yang merupakan lapisan mengandung banyak hara.
  • Pemakaian pupuk organik juga berperan penting dalam merawat/menjaga tingkat kesuburan tanah yang sudah dalam keadaaan berlebihan pemupukan dengan pupuk anorganik/kimia dalam tanah.
  • Pupuk organik berperan positif dalam menjaga kehilangan secara luas hara Nitrogen dan Fosfor terlarut dalam tanah
  • Keberadaan pupuk organik yang tersedia secara melimpah dan mudah didapatkan.
  • Kualitas tanaman yang menggunakan pupuk organik akan lebih bagus jika dibanding dengan pupuk kimia sehingga tanaman tidak mudah terserang penyakit dan tanaman lebih sehat.
  • Untuk kesehatan manusia tanaman yang menggunakan pupuk organik lebih menyehatkan karena kandungan nutrisinya lebih lengkap dan lebih banyak.

Sabtu, 21 Februari 2015

Sekelumit Sejarah Pemupukan Indonesia

Aktifitas pertanian tidak lepas dari kegiatan pemupukan, dengan pemupukan petani berharap mampu meningkatkan hasil pertaniannya semakin tinggi, sejarah pertanian Indonesia mencatat bahwa penggunaan pupuk anorganik (disebut: pupuk kimia) mulai digunakan oleh para petani di Indonesia sejak tahun 1980-an, pada waktu itu pemerintah mencanangkan penanaman padi dengan menggunakan pupuk kimia dan bibit unggul import.

Pada masa permulaan penggunaan pupuk kimia Indonesia tercatat pernah menjadi negara swasembada pangan, tetapi lambat laun hasil
produksi pertanian semakin menurun, petani mulai kelabakan karena tingkat kesuburan tanahnya semakin merosot, hal ini akibat dari penggunaan pupuk kimia secara teur menerus tanpa diimbangi dengan penggunann bahan organik sebagai penetralisir proses kimia tanah.


Pada era tahun 1990-an para penggiat pertanian mulai melakukan penyadaran kepada masyarakat tani yang sudah mulai ada ketergantungan pada pupuk kimia, dimulai dengan penggunaan pupuk organik yang dikenal dengan kompos, tetapi sebagian besar petani kurang tertarik karena dianggap kurang praktis, dari segi proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama yaitu sekitar 3 bulanan ini adalah faktor kendala utama bagi petani.

Baru setelah tahun 2000-an beberapa peneliti pertanian mulai melirik penggunaan bakteri yang menguntungkan sebagai pengurai sehingga pembuatan pupuk organik tidak memerlukan waktu cukup lama, hanya membutuhkan sekitar 1 - 2 minggu pupuk organik sudah siap digunakan, pupuk organik ini biasa disebut dengan pupuk bokashi. untuk lebih jelasnya tentang pupuk bokashi bisa di baca disini

Kamis, 24 Oktober 2013

Teknologi Terapan Pembuatan Bokashi Pola HCS



Saat ini telah hadir teknologi terapan untuk bidang pertanian yang sangat fenomenal yaitu pola pertanian dengan pemakaian pupuk organik dengan pola HCS, yakni dengan tenologi ini pupuk organik yang dihasilkan adalah pupuk organik yang nyaris sempurna, sudah banyak petani yang berhasil mendapatkan hasil panen yang melimpah dengan menggunakan teknologi ini.

Pembuatannyapun cukup mudah, dan siapapun bisa melakukannya, untuk bahan-bahan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

  1. Feses/kotoran hewan, baik ayam, kambing dan sapi
  2. Sekam padi, bisa diganti dengan serbuk gergaji kayu 
  3. Dedak Padi halus
  4. kapur/dolomit
  5. SOT
  6. Gula pasir
  7. Jika feses/kotoran sapi belum mengenal HCS, perlu difermentasi dulu dengan dengan Phefoc
  8. air secukupnya
Semua bahan dicampur menjadi satu, dengan komposisi sebagai berikut:

Untuk membuat 1 ton Bokashi
  1. Feses 800 kg
  2. Sekam Padi/serbuk gergaji 150 kg
  3. Dedak padi halus 50 kg
  4. Kapus/dolomit 50 kg
  5. SOT 4 botol
  6. Gula pasir 0,25 kg
  7. Air 30%, rendemen yang dibutuhkan 30% (jawa: mamel)


cara membuatnya:
1. Feses, sekam padi, dedak, dolomit dicampur/diaduk rata
2. larutkan gula pada ir secukupnya
3. campurkan SOT dalam air secukupnya lalu masukkan larutan gula, diamkan minimal 15 menit
4. Siram merata campuran no.1
5. Difermentasikan dengan cara metutup rapat dengan terpal atau masukkan dalam tong plastik selama 3 X 24 jam

Jika Feses yang didapat dari ternak yang belum mengenal pola HCS, Campuran no. 1 siram merata dengan campuran Phefoc 2 botol dan fermentasikan selama 1 X 24 Jam.

Jika anda tidak ingin repot-repot membuat pupuk organik Bokashi pola HCS anda bisa memesan :

Kushaeri
Tanggul Kulon - Tanggul - Jember - Jatim
HP : 0853349565555

Melayani Pengiriman keluar kota ditambah ongkos pengiriman
Harga
 Ukuran sak 25 kg harga 25 ribu
- ukuran sak 50 kg harga 40 ribu
- pembelian di atas 20 sak 50 kg harga 750 ribu per 20 sak

Kamis, 10 Oktober 2013

Keuntungan dan kerugian pupuk anorganik/kimia



Dalam hidup kita pasti mempunyai tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang, begitu juga dengan juga dengan petani, para petani juga mempunyai tujuan jangka pendek, menengah dan panjang, dan yang perlu diperhatikan bahwa tujuan-tujuan itu tidak tidak bertentangan antara satu dengan yang lain.

Begitu juga dengan hal penggunaan pupuk, petani tidak harus mengabaikan tujuan jangka panjang hanya untuk mengejar tujuan jangka pendek, seperti penggunaan pupuk anorganik atau pupuk kimia secara terus menerus akan merusak struktur tanah sehingga tingkat PH tanah akan semakin turun dan juga akan berakibat tanah menjadi kurus.

Berikut kelebihan penggunaan pupuk anorganik/kimia:
  1. Unsur yang terkandung akan cepat terurai
  2. Lebih cepat terserap oleh tumbuhan
  3. Pemupukan lebih mudah dilakukan
  4. Pemupukan intensif untuk tumbuhan lebih mudah, karena pupuk kimia telah dikonsentrasikan pada jenis unsur tertentu.
Berikut Kekurangan pupuk anorganik/kimia


  1. Karena cepat terurai di alam, sehingga untuk memperoleh hasil pemupukan yang efisian dan optimal harus digunakan dengan dosis yang tepat
  2. Waktu pemupukan harus sering dilakukan karena pupuk anorganik/kimia tidak dapat tersimpan dalam median tanah.
  3. Ketersediaan pupuk sangat tergantung pada pihak ketiga yaitu pabrikan dan distributor
  4. Harga relatif tinggi karena setiap tahunnya pemerintah kadang mengurangi jumlah subsidi
  5. Dapa mengakibatkan tidak seimbangnya unsur hara dalam tanah karena pemupukan tidak seimbang
  6. Dalam pemakaian dalam jangka waktu lama akan menurunkan PH tanah
  7. Dalam pemakaian dalam jangka waktu tertentu akan berakibat tanah menjadi kurus.